Oleh: ahmadkhoiruddin | Januari 29, 2010

Taubat


TAUBAT JALAN KEBAIKAN

Oleh : Ahmad Khoiruddin

Alhamdulilah segala puji syukur kehadirat Allah I, yang senantiasa memberikan kenikmatan kepada hamba-hambaNya yang tak terhingga jumlahnya. Sedangkan kita hanya di perintahkan Allah I  untuk mensyukuri semua yang di berikan kepada kita.

Shalawat dan salam semoga senantiasa di tujukan kepada suri tauladan kita, Rasulullah r, keluarga, para sahabatnya, tabi’in, tabi’u tabi’in dan kepada siapapun yang mengikuti jalan beliau hingga datang hari perhitungan.

Seseorang yang mengimani keesaan Allah I akan senantiasa merasa melakukan kesalahan, dengan begitu seorang hamba tidak akan bangga diri, bahkan sebaliknya, mereka akan merasa kerdil, lemah, dan tak berdaya di depan Allah I. Sangatlah nista jika diri kita merasa bersih dari dosa.

Sungguh mulia Rosulullah saw, seorang nabi yang terbebas dari dosa-dosa, semua kesalahannya yang lampau dan yang akan datang di ampuni Allah I. Beliau selalu beristighfar seratus kali dalam sehari mengharap ampunan dari Allah I. Di keheningan malam beliau menghadap sang maha penyayang, dengan khusyuk hingga kaki beliau bengkak-bengkak, ketika sang istri tercinta ibunda kaum mu’minin Aisyah rha memandang suaminya, ia bertanya : “Wahai Rosulullah kenapa engkau sampai berbuat seperti ini? sedangkan Allah I telah mengampuni semua kesalahan engkau yang telah lalu dan yang akan datang..? Rosulullah r menjawab : Wahai Aisyah apakah aku tak pantas menjadi hambanya yang bersyukur..!(HR. Bukhori dan Muslim) seketika ibunda Aisyah terdiam, karena kemuliaan Rolulullah r, dan kerendahan hati beliau.

Rasulullah r yang telah terbebas dari dosa, masih salalunya mengharap ampunan, sedangkan kita? Berapa banyak dosa yang telah kita lakukan, yang kita sadari dan tidak kita sadari. Masihkah ada sebuah ampunan bagi kita? Jalan apa yang harus kita tempuh untuk mendapatkan ampuananNya?.

Jauh-jauh hari Allah I  telah berfirman  :

“Katakanlah : Hai hamba – hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa – dosa semuanya. Sessungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang “.  ( QS. Az Zumar : 53)

Ayat di atas menjadi sandaran kita sebagai insan yang tak pernah luput dari salah dan khilaf, untuk segera bertaubat. Allah I Maha menepati janji, sebagaimana firmanNya : “Dan siapakah yang lebih menepati janji kecuali Allah SWT” (QS.At-Taubah : 111). Pantaskah kita mengingkari janjiNya ketika Ia berjanji, pantaskah kita menjauhi rahmat Allah I  yang luas.

Maha suci Allah I yang telah mengabarkan RosulNya. Diriwayatkan oleh Mu’awiyah bin Abu Sofyan ra, Rosulullah r mengisahkan seorang pembunuh yang diterima taubatnya :

Ada seorang laki-laki yang telah membunuh 98 orang, lalu ia mendatangi seorang rahib, dan bertanya : Masihkah ada kesempatan untukku bertaubat? Rahib menjawab : tidak! engkau telah melampaui batas. Kemudian lelaki tersebut berdiri dan membunuhnya.

Kejadian ini terulah dua kali hingga ia genap membunuh 100 nyawa,

Dan yang ketiga kalinya ia mendatangi rahib dan bertanya : Masihkah ada taubat untukku? Sang rahib yang ‘alim menjawab : engkau telah melampaui batas, aku tidak mengetahui diterima atau tidak taubatmu, tapi aku tunjukkan padamu sebuah tempat yang di huni oleh orang-orang yang mengamalkan amalan penduduk jannah. Di perjalanan menuju tempat taubat, lelaki tersebut menemui ajalnya. Maka datanglah dua malaikat, malaikat rahmat dan malaikat adzab, dan keduanya bertanya prihal lelaki  tersebut. Allah I berfirman : Lihatlah jarak antara daerah yang ia tinggal dengan daerah yang ia tuju untuk bertaubat, manakah yang lebih dekat. Maka malaikat mendapatkan bahwa daerah yang ia tuju lebih dekat, maka tercatatlah lelaki tersebut dalam golongan orang-orang yang berbuat baik dan bertaubat. Maka Allah mengampuninya. (Shohih Muslim, Syarh Nawawi,  jld 9 hlm : 143)

Dari keterangan di atas apakah kita masih merasa berputus asa dari ampunan-Nya, sedangkan taubatnya pembunuh seratus orang saja masih diterima oleh Allah SWT.

Ada beberapa langkah yang harus diperhatikan, jika seorang hamba benar-benar ingin mendapatkan ampunan Allah I .

Apabila  maksiat atau dosa yang dilakukan itu antara seorang hamba dengan Allah I dan tidak berkaitan dengan hak-hak manusia maka ada tiga syarat yang harus dipenuhi:

  1. Menjauhi dosa yang telah diperbuat, dan berusaha sekuat tenaga menghindari faktor-faktor yang akan membuat kita kembali berbuat dosa tersebut. Karena syaithan tidak akan berdiam diri, ketika sang hamba hendak kembali ke jalan yang lurus.
  2. Menyesali dan merasa bersalah karena perbuatan dosa tersebut. Dengan tidak menceritakannya pada siapapun, karena jika kita menceritakannya maka sama saja kita membuka aib kita, padahal Allah telah menutupinya.
  3. Bertekat untuk tidak mengulangi kembali perbuatan dosa itu selamanya. Serta  beristighfar, selalu mengharap ampunan dari sang Pencipta, dengan rasa harap dan takut.

Jika salah satu di antara tiga syarat itu tidak terpenuhi, maka taubat seseorang tidak sempurna.

Dan jika dosa tersebut berkaitan dengan hak orang lain, maka syaratnya menjadi empat, yaitu di tambah kewajiban meminta maaf kepada orang yang telah didzolimi.

Ibnu Mubarok menambahkan lagi syarat yang lain, di luar yang empat tadi. Beliau berkata syarat taubat adalah penyesalan, tekad untuk tidak mengulangi perbuatan dosanya, mengembalikan hak yang di dzoliminya, melaksanakan kembali kewajiban yang tertinggal, serta berniat untuk memberikan makanan pada tubuhnya yang selama ini tumbuh lewat sesuatu yang haram, agar terlebur keharamannya oleh rasa duka dan penyesalan, sehingga akan tumbuhlah daging yang baik. Ia juga harus merasakan pahitnya berbuat ketaatan sebagaimana ia dahulu menikmati perbuatan dosanya.[1]

Jika semua syarat tersebut telah terpenuhi, maka hendaknya seseorang yang tidak ingin kembali terjerumus ke dalam jurang kemaksitan melaksanakan lima hal, sebagaimana yang telah disebutkan oleh konsultan kedokteran jiwa, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah. Lima hal tersebut adalah :

Pertama : Memikirkan ayat-ayat Allah I dan mengamalkannya, tidak hanya sekedar membacanya ketika ia mendapatkan masalah.

Kedua : Memperhatikan dan memahami ayat-ayat kauniyah, sebagai bukti kebesaran Allah I yang ada di langit dan di muka bumi.

Ketiga : Memikirkan nikmat yang telah Allah I karuniakan kepada seluruh makhlukNya.

Keempat : Memikirkan kekurangan dan kelemahan kita sebagai hamba yang banyak berbuat salah.

Kelima : Memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, dengan menyibukkan diri dalam kewajiban dan ketaatan, beramal sholih, dan menegakkan sunnah rasulullah r. (Al-jawabul Kaafi Liman Sa’ala ‘an dawaa’ Asy-syafie).

Seorang sufi pernah berkata : Dan nafsumu, jika tidak engkau sibukkan dengan ketaatan, maka dialah yang akan menyibukkanmu dalam kemaksiatan.

Maka segeralah kembali ke jalan ilahi, jangan di tunda-tunda, karena jika ajal datang menyapa, yang tinggal hanyalah penyesalan belaka. Wallahua’lam bish-showab.


[1] Dosa, bahaya dan Pencegahannya, Muahammad bin Ahmad Rasyid Ahma, hal:123


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: