Oleh: ahmadkhoiruddin | Januari 29, 2010

Pahlawan ?


Dia Bukan Pahlawan Bangsa

Umat  islam tanah air ini, telah lama dinina bobokkan oleh para ulama’ yang berlindung di dalam selimut pemerintah, pahlawan di anggap lawan, sedangkan lawan di anggap pahlawan. Mereka dibutakan dengan ideologi-ideologi barat yang notabenenya adalah musuh islam itu sendiri. Tubuh umat islam pun diracuni, diserang, dan digores sedikit demi sedikit oleh musuh-musuh islam yang hendak menghanguskan risalah suci Rasulullah r di dataran negri ini.

Pasca meninggalnya Gus-dur, seorang kyiai negri ini, banyak kalangan umat islam berbela sungkawa, meratap, bahkan ngalap berkah dari tanah pekuburan seorang yang tidak jelas agamanya. Pada masa hidupnya Gus-dur menjadi pembela berbagai agama di negri ini, dari agama legal dan agama yang menyimpang, mereka semua berlindung di bawah kursi rodanya. Maka tak heran presiden SBY mengalungkan gelar bapak pluralisme padanya.

Tanah air ini telah kehilangan wibawa, tanah air ini telah lalai. ketika kita membuka sejarah kemerdekaan negri ini maka kita akan mengingat kembali, dari siapa pertolongan dulu datang, jika bukan dari sang Maha Bijaksana, Allah I. Dan di pundak siapa amanah negri ini di pikul, jika bukan di pundak para pemuda muslim, yang mengangkat senjata dengan gagah. pendahulu kita telah memperjuangkan islam di negri ini, negri yang kita cintai ini, agar negri ini di huni penerus risalah nabi, menjadi negri yang di barokahi.

Orang yang telah menodai kesucian al-Qur’an, orang yang telah menginjak kehormatan islam, di sebut sebagai pahlawan nasional, pahlawan bangsa. lupakah mereka dengan tindakan pemimpin mereka yang telah menghambur-hamburkan harta negara demi kepentingan keluarganya. Akankah mereka sadar dengan semua ini, seorang pemimpin adalah seorang yang mempunyai prinsip “sayyidul qoum khodimuhum” seorang pemimpin adalah pembantu rakyat itu sendiri, sebagaimana amirul mu’minin Umar bin Khottob yang mengabdikan diri pada rakyat.

Jika demikian adanya, pantaskah seorang Gus-dur di sebut dengan pahlawan, sedangkan agama islam yang ia akui dengan lisannya ia jual murah ? layakkah orang yang telah menorehkan luka dalam tubuh bangsa  di sebut dengan pemimpin agama ? maka jawabannya adalah “islam, dien yang lurus telah menentukan pahlawan yang pantas di tulis dalam catatan sejarah. Maka tiada pantas bagi kita sebagai muslim, yang mengemban risalah nabi, mengangkat orang yang melecehkan islam menjadi pahlawan.

by : Khoir


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: