Oleh: ahmadkhoiruddin | Januari 29, 2010

Kisah kami


Kisah Para Pengembara

(Kelompok sekawan)

Di pagi hari sabtu 27 desember 2009, keluarga besar an-nuur di meriahkan dengan berbagai acara. Para pengembara swiming pool siap beraksi menunjukkan siungnya,  setelah mempersiapkan jiwa dan raga beberapa hari, agar tidak ada yang terkapar pingsan di perjalanan menuju kemp pelatihan. Hati gembira, jari tangan berkumpul satu sama lain, kakipun ikut loncat gaya singa hendak menghadapi rintangan.

Ri…ri.. ri…kiri..captain kelompok IV memberi aba-aba lari,..setelah beberapa menit terpaksa kita keluarkan jurus kaki angsa, berjalan cepat satu baris, karena jalan aspal di tengah sawah yang usang, seakan tiada seorang pun peduli dengan kondisi jalan lintas antar desa  tersebut. Tepat jam 06.25 sampailah kita di sebuah desa, temple namanya.

Selamat tinggal desa temple. Setiba di desa berikutnya kita bertanya dengan seorang pengembala itik, : ngapunten pak, bade tanglet! Oh monggo…jawab seorang bapak,  niki namine desa nopo nggeh..? Desa jATi  dek’…matur nuwon nggeh…sami-sami…

Semangat masih membara di sanubari para pengembara, beberapa desa kita lalui dengan penuh asa, walaupun tinggal puing-puing tenaga yang tersisa, tidak menyurutkan kita tuk menyongsong kemp pelatihan cokro dengan suka cita. Desa-desa kecil yang asing di telinga kami,  menyambut kami dengan senyuman indah…, berjumpa dengan sekumpulan keluarga kami bertanya, maaf pak ini namanya desa apa ya…? dengan nada penasaran ia balik bertanya “dari pondok waru ya mas”? iya pak, oya ini namanya desa gambiran, trima kasih pak, sama-sama..desa gambiran kita lewati pukul 06.44, terlintas di benak kami, sepertinya keluarga  ini kenal baik dengan pondok.

Perjalanan kami lanjutkan tanpa henti, di terpa angin desa yang menyejukkan hati kami, hingga menjemput desa karang asem jam 06.52, sepanjang perjalanan kita hanya menemui padi muda hijau bersemi. tanpa duga tanpa sadar kita telah memotong jalan panjang, Suhail dan Mukhlisin penunjuk jalan kami tidak sia-sia memilihkan jalan, terpampang nama sebuah desa, desa doko ; kec duwet, membuat kita optimis, kita pasti bisa, kita pasti kuat, kita harus semangat, hentakan kaki mulai terdengar kembali. Kita lewati desa doko jam 06.57.

Hanya beberapa meter kita di hentikan dengan berhentinya salah satu anggota kami, “wah kaki sepatu saya mulai terasa sempit ni”!..tuturnya..akhirnya ia melepaskan alas kaki, berlari di atas aspal yang masih dingin karena rintikan hujan.  Sambil berjalan kita hanya melihat papan nama, maklum, malu mau bertanya, soalanya kan udah di jalan besar, jurusan pakis, pastinya sudah rame orang masang papan alamat. Desa tinggen kita jajaki pukul 07.00, berikutnya desa bentangan kita takhlukkan pukul 07.15 hanya dalan hitungan menit. Desa sekaran kita lalui pukul 07.22, dalam perjalanan panjang ini kita tidak mengenal henti, walau sekedar meluruskan sendi-sendi. Hingga kita menjajaki desa boto, kecamatan pakis, pukul 07.36. salah satu anggota  kami kembali memakai alas kakinya, tapi beberapa menit kemudian satu anggota lain melepas sepatu bootnya. Naas jemar kakinya memerah, kapalan, mungkin terlalu sempit. Alhamdulillah ia membawa minyak zaitun, setelah di oleskan di jemari, perihnya kaki tidak terasa lagi. Kami pun ikut memakai zaitun, mudah-mudahan tidak satupun  yang lecet kaki dari anggota kami.

Pukul 08.03 kita berjumpa Desa panjen, ada seorang pemuda yang sadang santai duduk di atas motornya, kita menyapa ;  “mas ke cokro lewat sini bisa ya..? oya bisa mas, ikuti aja jalan aspal ini, nanti ketemu perbatasan cokro dengan dasa ini, kira-kira 4km, makasih pak! Sama-sama. Alhamdulillah dalam benak kami, cokro di depan mata. Beberapa meter dari desa panjen kita beristirahat sejenak, ada masjid di kiri jalan, Allah I menolong kita di kala persediaan air minum kami menipis, di serambi masjid kita dapatkan sebuah galon air, komandan kami bertanya dengan seorang bapak tetangga masjid, asalamualaikum ! walaikumsalam, maaf pak! bolehkah kita minta air minumnya ? oh silahkan dek’. Kita pun tidak menyia-nyiakan kesempatan emas, kita penuhi semua botol yang ada di tas kami, tuk bekal perjalan yang masih belum jelas jauhnya.

Sampailah kami di desa ngebong pukul 08.14, kami sempat terkecoh dengan sekian arah yang ada di hadapan kita, lurus, kiri, atau ke kanan, kayaknya lurus lho… ,seru salah seorang anggota, sambil berlari kita memandang di sekeliling kita, hai lihat tulisan itu “cokro”. Segera kita berbalik badan, belok ke kanan, asa kembali membara, langkang panjang kita ayunkan. Sekian lama kita berlari tibalah kita di desa krapyak pukul 08.30, selanjutnya kami jalan santai sampai di keprabon pukul 08.53, sejenak kami meluruskan sendi-sendi tangan dan kaki, sambil menikmati sawo manis.

Setelah kurang lebih 5 menit kami membaringkan badan, kami kambali bangkit melanjutkan pengembaraan, di tengah perjalanan kita sampai di salah satu perusahaan besar indonesia, yaitu pabrik aqua, dengan di jaga oleh banyak petugas satpam, ada yang berwajah hingar bingar, ia menatap kami dengan pandangan tajam, di pintu gerbang sebelah nampak satpam lain, yang kelihatannya ringan tangan, murah senyuman. tak segan-segan, salah satu anggota  kami memasang muka tembok  tebal, “permisi pak, jalan ke cokro betul lewat sini ya..? betul dek..kira-kira 15 menit perjalanan sampai, oya pak boleh minta airnya ? oh..silahkan boleh, ambil aja di situ, sekalian isi semua botol-botol yang di bawa. Alhamdulillah, “wa man yattaqillah yaj’al lahu mahroja, wa yarzukkhu min haitsu la yahtasib” inti dari ayat “orang yang benar-benar bertaqwa pasti akan di tunjukkan jalan, dan di beri rizqi yang tak di sangka-sangka,-. Desa patran kita takhlukkan pukul 08.52, belum puas dari keterangan satpam manis, kami kembali bersuara “ngapunten pak ! bade tanglet, kolam cokro tasek tebe botern nggeh…? oo…boten sekitar 2km maleh dek, oh yo pun pak matur suwon..

Ayo…cokro di ambang pintu, selamat datang cokro, kami datang menjumpaimu…hanya beberapa saat langkah kami terhenti di pertigaan jalan, hati kami risau melihat daerah sekitar, kami kembali bergumam, mana? Katanya 2km lagi! kok gak ada tanda-tanda adanya kolam renang ya….? kayaknya udah 2 km, di simpang jalan, lagi-lagi kami bertanya : “pak kolam renang cokro masih jauh ndak ya..? udah deket dek, sekitar 4km. Hah…4km, beneran aja, sebelumnya bilang 2km. Payah keterangannya…salah ngukur apa kita salah arah ya…! sahut khoir, ya udah kita lanjutkan perjalanan, hingga sampai kita di pertigaan jalan, tanda-tanda adanya kolam telah nampak.

Kami belok ke kiri, jalan lurus sampai mentok  kami hanya mendapatkan keramaian pasar, dan papan bertulisan “tempat pemandian air sumber”. Wah di mana ni kolamnya!, kita tanya aja orang,“maaf pak kolam cokro di mana ya..?” oh deket kok mas sekitar 100m dari sini. Oh ya dah makasih pak! Kita kembali berjalan, menikmati alam, melangkang pasti. Teman-teman aroma kolam mulai mulai tercium, kami memandang sudut-sudut rumah di sekeliling kami, mencari-cari papan yang bertuliskan “kolam renang cokro”, wah mana ni kolamnya? Masyallah..apa kita harus bertanya orang lagi..ya gimana lagi ? Malu bertanya sesat di ranjang, upz di jalan deng. Salah satu personil kami mendatangi  mba’ kolam renang cokro di mana ya…? La itu…! jari lentik menunjuk ke sebuah gapura bercat putih yang terlihat usang, terlihat seakan bangunan yang sudah tua, di atasnya tertulis “selamat datang di pemandian umbul  cokro”. Alhamdulillah kami bernafas lega. Perjalanan awal telah kami lalui.  tepat pukul 09.47 kami singgah di masjid dekat taman wisata cokro, dengan merebahkan tubuh, rasa lelah pergi berlalu…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: