Oleh: ahmadkhoiruddin | Januari 16, 2010

Si Bule dari Kraton Solo


Bronis Special Malam 1 Syuro

Di Keraton Kasunanan Surakarta, ada sekawanan kerbau (kebo) yang dipercaya keramat, bisa memberikan barokah dan manfaat bagi masyarakat, yaitu  “Kebo Bule Kyai Slamet”. Hewan ini termasuk pusaka penting milik keraton. Kerbau bisa jadi pusaka ?? masuk akal kah ?

Dalam buku Babad Solo karya Raden Mas (RM) Said, “leluhur kebo bule  adalah hewan kesayangan Paku Buwono II, sejak istananya masih di Kartasura, sekitar 10 km arah barat keraton yang sekarang.

Menurut Yosodipuro, seorang pujangga kenamaan Keraton Kasunanan Surakarta, “leluhur kerbau dengan warna kulit yang khas, yaitu bule (putih agak kemerah-merahan) itu, merupakan hadiah dari Bupati Ponorogo kepada Paku Buwono II, yang diperuntukkan sebagai cucuk lampah (pengawal) dari sebuah pusaka keraton yang bernama Kyai Slamet. Yang perlu diberi tanda tanya,  sampai sekarang pihak keraton tidak pernah bersedia menjelaskan apa bentuk pusaka Kyai Slamet ini, bisa jadi pusaka tersebut berbentuk tongkat, pedang atau senjata. Di sinilah kesalahan fatal masyarakat, padahal yang di maksud kyai selamet itu adalah sebuah pusaka kraton, “bukan kebonya!”, ini juga menurut penuturan Wakil Pengageng Sasono Wilopo Keraton Surakarta, Kanjeng Raden Aryo (KRA) Winarno Kusumo.

Konon, saat Paku Buwono II mencari lokasi untuk keraton yang baru, tahun 1725, leluhur kebo-kebo bule  tersebut dilepas, dan perjalanannya diikuti para abdi dalem keraton, hingga akhirnya berhenti di tempat yang kini menjadi Keraton Kasunan Surakarta –sekitar 500 meter arah selatan Kantor Balai Kota Solo.

Bagi masyarakat Solo, dan kota-kota di sekitarnya, seperti Karanganyar, Sragen, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, dan Wonogiri, Kebo Bule Kyai Slamet bukan lagi sebagai hewan yang asing. Setiap malam 1 Syura menurut pengganggalan Jawa, atau malam tanggal 1 Muharam menurut kalender Islam (Hijriah), sekawanan kebo keramat ini selalu dikirab (di giring) menjadi cucuk lampah sejumlah pusaka keraton.

Ritual kirab malam 1 Syura itu sendiri  sangat ditunggu-tunggu masyarakat. Ribuan orang tumpah ruah di sekitar istana, juga di jalan-jalan yang akan dilalui kirab. Masyarakat meyakini akan mendapat berkah dari keraton jika  menyaksikan kirab.

Kirab biasanya berlangsung tengah  malam, tergantung “kemauan” dari kebo Kyai Slamet. Sebab, adakalanya kebo keramat baru keluar dari kandang selepas pukul 01.00. Kirab pusaka ini sepenuhnya memang sangat tergantung pada kebo keramat Kyai Slamet. Jika saatnya  tiba,  biasanya tanpa harus digiring kawanan kebo bule akan berjalan dari kandangnya menuju halaman keraton. Hebat bukan!

Dan inilah yang menarik : orang-orang menyikapi kekeramatan kebo sedemikian rupa, sehingga  tidak  masuk akal walaupun di paksa. Mereka berjalan mengikuti kirab, saling berebut berusaha menyentuh atau menjamah tubuh kebo bule. Masyaallah! Percaya gak percaya, begitulah keadaan sebagian masyarakat tanah air ini. Allahumaghfirlana (ya Allah ampunilah kami).

Tak cukup menyentuh tubuh kebo, orang-orang tersebut terus berjalan di belakang kerbau, menunggu sekawanan kebo bule buang hajat alias “nelek” (bronis spcial). Begitu kotoran jatuh ke jalan, orang-orang pun saling berebut  mendapatkannya, mereka meyakini bahwa kotoran si kerbau akan memberikan berkah, keselamatan, dan  rejeki berlimpah. Mereka menyebut berebutan kotoran tersebut sebagai tradisi “ngalap berkah” atau mencari berkah Kyai Slamet, bukannya ini syirik besar ? di mana posisi Pencipta dalam hati mereka ? sungguh kemurkaan Allah amatlah besar.

Sejarah Kyai Selamet

Menurut Kepala Sasono Pustoko Keraton Surakarta Gusti Pangeran Haryo (GPH) Puger, kirab pusaka dan kerbau sebenarnya berakar pada tradisi sebelum munculnya Kerajaan Mataram (Islam), pada prosesi ritual wilujengan nagari. Pusaka dan kerbau merupakan simbol keselamatan. Pada awal masa Kerajaan Mataram, pusaka dan kerbau yang sama-sama dinamai Kyai Slamet, hanya dikeluarkan dalam kondisi darurat, yakni saat pageblug (wabah penyakit) dan bencana alam.

“Pusaka dan kerbau ini diharapkan memberi kekuatan kepada masyarakat. Dengan ritual kirab, Tuhan akan memberi keselamatan dan kekuatan, seperti halnya Ia memberi kekuatan kepada pusaka yang dipercaya masyarakat Jawa memiliki kekuatan,” ungkapnya. bukannya memperbanyak ibadah agar mendapat kekuatan, malah mengundang musibah.

Kemunculan kebo bule Kyai Slamet dalam kirab, kata Sudarmono, sejarawan dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo adalah perpaduan antara legenda dan sage (cerita rakyat yang mendewakan binatang). Dalam pendekatan periodisasi sejarah, sosok kebo bule ditengarai hadir semasa Paku Buwono (PB) VI pada abad XVII. PB VI merupakan raja yang dianggap memberontak kekuasaan penjajah Belanda dan sempat dibuang ke Ambon.

“Meski PB VI dibuang ke Ambon, namun semangat pemberontakan dan keberaniannya menghidupi rakyatnya. Dalam peringatan naik takhta, sekaligus pergantian tahun dalam penanggalan Jawa malam 1 Syura, muncul kreativitas menghadirkan sosok kebo bule yang dipercaya sebagai penjelmaan pusaka Kyai Slamet dalam kirab pusaka,” tambah Sudarmono.

Pada sisi lain Puger menuturkan “Keraton Surakarta tidak pernah menyatakan tlethong (kotoran kerbau) bisa mendatangkan berkah”. Menurutku jika tlethong dianggap menyuburkan sawah karena dapat dibuat pupuk sih iya, itu masih diterima akal.

Winarno mengungkapkan, saat ini kebo bule keraton berjumlah 12 ekor. Namun kebo bule yang dipercaya sebagai keturunan asli Kyai Slamet sendiri hingga saat ini hanya tersisa enam ekor. Mereka adalah Kiai Bodong, Joko Semengit, Debleng Sepuh, Manis Sepuh, Manis Muda, dan Debleng Muda.

“Yang menjadi pemimpin kirab biasanya adalah Kyai Bodong, karena dia sebagai jantan tertua keturunan murni Kyai Slamet. Disebut keturunan murni, karena mereka dan induk-induknya tidak pernah berhubungan dengan kerbau kampung, mungkin gak level kali ya..”

Kyai Bodong sendiri memiliki adik laki-laki yang diberi nama Kyai  Bagong. Namun, kata Winarno, kerbau tersebut sekarang ini berada di kawasan Solo Baru, Sukoharjo, dan dengan alasan yang enggan disebutkan, kebo bule itu tidak bisa dibawa pulang ke Keraton Surakarta.

Nah, peran kebo bule Kyai Slamet adalah sebagai simbol kekuatan yang secara praktis digunakan sebagai alat pengolah pertanian, sumber mata pencaharian hidup bagi orang-orang Jawa dari beberapa abad lalu.

Jika kerbau hanya sekedar hewan yang membantu petani dalam penggarapan sawah maka hal ini adalah wajar. karena memang kerbau dan hewan-hewan lainnya di ciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Akan tetapi manusia pun di larang menyakiti hewan, seperti memukul muka sebagaimana kita di larang memukul muka saudara kita (baca : fiqh sunnah sayid sabiq, jld : 3 ), dan islam pun melarang menyembelih hewan dengan pisau tumpul, karena bisa menyakiti hewan tersebut.

Ini bukti bahwa islam juga memperhatikan hak-hak hewan. Sedangkan kedudukan hewan masih di bawah manusia sampai datang hari akhir, karena hewan tidaklah di beri aqal untuk berfikir mana yang baik da mana yang buruk.

Sumber : kabarsoloraya.com, tulisan mas nugroho adi. fiqh sunnah karya sayid sabiq.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: