Oleh: ahmadkhoiruddin | Januari 16, 2010

as-sunnah


As-Sunnah

(Ahmad Khoiruddin bin Syarif)

Pengertian As-Sunnah

As-Sunnah adalah segala perbuatan, perkataan yang di sandarkan pada Nabi r . As-Sunnah di bagi menjadi tiga bagian[1] :

  1. Sunnah Qouliyah (perkataan)
  2. Sunnah Fi’liyah (perbuatan)
  3. Taqririyah (perbuatan sahabat yang di ketahui nabi  dan beliau mediamkannya)

Pembagian As-Sunnah dari segi sanad :

  1. 1. Sunnah Mutawatir.

Sunnah yang diriwayatkan tiga generasi pertama yang jumlah mereka tdak terhitung dan tidak di ragukan kedudukannya, sunnah ini di bagi menjadi dua ;

  1. Mutawatir lafdzi,lafadz dan maknanya sama[2],contoh :

Barang siapa berdusta atasku maka bersiap-siaplah tempat kembalinya di neraka”[3] ( HR. Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Abu Daud )

  1. Mutawatir maknawi [ lafadznya berbeda tapi maknanya sama ] contoh, hadits  berkenaan tentang mengangkat tangan ketika berdo’a[4].

Dalam hal ini para ulama’ berbeda pendapat dalam menentukan jumlah perowi, ada yang mengatakan sepuluh, dua belas, dua puluh, empat puluh, tuju puluh, sedangkan menurut ibnu taimiyah jumlahnya tidak terhigga[5].

Hadits mutawatir merupakan sumber yang pasti dari Rosululah r  karena ia menghasilkan ilmu dan yaqin, maka wajib di amalkan, orang yang mengingkarinya menjadi kufur[6]

  1. 2. Sunnah Masyhur.

Sunnah yang di riwayatkan beberapa perowi satu atau dua dari sahabat, belum sampai pada kedudukan mutawatir, dan berkembang pada masa setelah masa sahabat dan tabi’in[7] terkadang kedudukannya shohih dan kadang hasan, lemah bahkan palsu. Jika di ketahui hadits ini shohih atau hasan maka wajib beramal dengan hadits ini karena ia memiliki dzon yang kuat[8].

  1. 3. Sunah Ahad.

Sunnah yang hanya di riwayatkan oleh beberapa perowi dari, belum sampai mutawatir. Imam syafi’i menamai dengan khobar khoshoh[9], maka ia hanya menghasilkan dzon (prasangka) saja dan tidak menghasilkan yaqin dan ketenangan, akan tetapi tetap wajib beramal dengan hadits ini selama bukan dalam ruang lingkup aqidah, karena sumbernya di ragukan[10].

Sebagian ulama’ tetap mewajibkan beramal dengan hadits ahad walaupun dalam ruang lingkup aqidah seperti Ibnu Qoyyim, Imam Syafi’i, Imam Ahmad[11].

Para ulama’ mensyaratkan di terimanya sunnah ahad sebagai berikut :

Hanafiyah :

  1. Sunah itu tidak bertentangan dengan amal perowi
  2. Topik sunnah tidak sering terjadi dan bukan masalah yang selalu terjadi.
  3. Sesuai dengan qiyas dengan dasar-dasar syara.

Imam Malik :

  1. Hendaknya sunnah ahad tidak menyelisihi amal penduduk Madinah.
  2. Tidak menyelisihi qiyas, karena qiyas lebih didahulukan dari pada sunnah ahad[12].

Imam Syafi’i :

  1. Hendaknya sunnah ahad sanadnya muttashil shohih.
  2. Perowinya tsiqoh terhadap diennya.
  3. Memahami apa yang diriwayatkannya.

Imam Ahmad tidak mensyaratkan kecuali hanya sanadnya shohih, sebagaimana imam Syafi’i.

Dalil As-Sunnah Dalam Pengambilan Hukum

Sunnah adalah sumber kedua tasyri’ yang wajib kita amalkan, kedudukan As-Sunnah dibawah Al-Qur’an, karena dari segi jumlah dan sumbernya Al-Qur’an di terima secara qoth’i (pasti), sedangkan As-Sunnah di terima qoth’i jika mutawatir, jika ahad maka ia sumber yang dzonni, adapun dari segi pengambilan dalil maka ia sama dengan al-qur’an ada yang qoth’i dan ada yang dzonni[13].

Adapun keterkaitan As-Sunnah dengan al-qur’an dalam pengambilan hukum  adalah sebagai berikut :

  1. As-Sunnah sebagai penekan kandungan Al-Qur’an, seperti perintah sholat, zakat, puasa, berbuat baik, dll[14].
  2. Sebagai penjelas bagi Al-Qur’an, dan ini di bagi mejadi tiga
    1. Menjelaskan  yang global, seperti bagaimana tata cara sholat dan zakat.
    2. Memperinci yang umum, seperti larangan menikahi dua wanita bersaudara, yaitu bersama bibi dari ibunya atau ayahnya, anak dari saudara lelakinya dan anak dari saudara perempuannya, sebagai penjelas ayat “Dan di halalkan bagimu selain perempuan-perempuan yang demikian itu”(QS.An-Nisa’ ; 24)[15]
    3. Mentaqyidkan yang muthlaq, seperti potong tangan bagi pencuri di jelaskan dalam As-Sunnah yaitu dari pergelangan[16].
    4. As-Sunnah sebagai peghapus hukum dalam Al-Qur’an jika mutawatir, di sini ada dua pendapat :
      1. Pendapat jumhur membolehkannya, berhujjah dengan ayat “Dan tidaklah yang di ucapkannya itu menurut keinginannya, tidak lain adalah wahyu yang di wahyukan kepadanya” (QS.An-Najm : 3-4)
      2. Pendapat Syafi’i, Pengikut Dzowahiri dan Ahmad tidak membolehkannya, berhujjah dengan ayat “Ayat mana saja yang Kami hapus, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik dari padanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu[17].
      3. As-Sunnah mendatangkan hukum baru yang belum tertera dalam Al-Qur’an, seperti hukum rajam bagi yang berzina (muhshon).

Keabsahan As-Sunnah.

Para ulama’ sepakat bahwa As-sunnah wajib di amalkan sebagaimana Al-Qur’an dalam menyimpulkan hukum-hukaum syar’i, landasannya adalah sebagai berikut :

  1. Al-Qur’an, surat Al-Hasr ayat 59 “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya”
  2. Ijma’ para sahabat, berdasarkan hadits Mu’adz bin Jabal ketika di utus Rosulullah r  menjadi qodhi ( Hakim) di yaman.
  3. Logika, karena kita tidak mungkin mengamalkan hukum yang masih umum dan global dalam Al-Qur’an tanpa keterangan Sunnah[18].

Hadits mursal

Hadits mursal menurut para ahli fiqih sama dengan mungqothi’, mu’adhol, dan mu’alaq, karena sanadnya tidak bersambung sampai Nabi, sebagian ahli hadits menerima mursal sahabat, karena sudah tidak di ragukan lagi keadilan mereka, menurut jumhur kecuali Syafi’i mursal selain sahabat juga di terima karena perowi yang tsiqoh dan adil tidak akan meriwayatkan hadits mursal jika memang benar itu dari Rosulullah r .

Menurut Syafi’i hadits mursal tidak di terima kecuali adanya salah satu dari syarat berikut ini ;

  1. Hendaknya yang meriwayatkan adalah tabi’in senior yang banyak bertemu banyak sahabat , seperti sa’id bin musayyib.
  2. Di kuatkan oleh hadits mursal yang di terima para ulama’.
  3. Di tekankan dengan atsar sahabat.
  4. Di perkuat dengan fatwa mayoritas ulama’.
  5. Makna hadits mursal di kuatkan hadits dengan hadits musnad muttashil[19].

Perbuatan-Perbuatan Nabi r .

Perbutan nabi jika di tinjau dari segi pengamalan di bagi menjadi tiga :

  1. Tabi’at atau tindakan manusiawi seperti makan,minum, tidur, maka kita tidak wajibkan mengikuti, kecuali jika ada dalil yang mensyariatkannya.
  2. Perbuatan Nabi Muhammad r , yang Allah I  berikan khusus kepadanya, seperti bolehnya menikahi wanita lebih dari satu.
  3. Perbuatan nabi r yang terlepas dari perbuatan diatas maka di sini ada dua bentuk :
    1. Jika tindakan itu penjelas bagi Al-Qur’an maka mengikutinya menjadi sunnah bahkan sampai tingkat wajib.
    2. Dan jika tindakan itu tidak ada atau ada penjelasan dari nash syar’i maka hukum mengikutiya bisa sampai wajib, sunnah atau boleh, karena Nabi Muhammad r  adalah tauladan kita.

Secara ringkas semua perbuatan manusia bukanlah hujjah yang harus di ikuti, sedangkan jika perbuatan itu ada dasarnya dari Al-Qur’an atau As-Sunnah maka wajib kita ikuti[20].

Referensi :

  1. Al-Qur’an Al-Karim, Pustaka Darus Sunnah.
  2. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim, Ibnu Katsir Al-Qursyi, jld 2.
  3. Al-Wajiz fi Ushul Fiqh, DR. Wahbah Az-Zuhaily, Pustaka Darul Fikri Al-Mu’ashir.
  4. Mabahits fi Ulumil Qur’an, Manna Qotthon, Pustaka Mansyurot Al-‘Asr Al-Hadits.
  5. Ma’alim fi Ushul Fiqh, Muhamad bin Husain, Pustaka Darul Ibnu Jauzy.
  6. Syarh Al-Kaukabulkabir, jld: 2, Maktabah Syamilah.
  7. Pengantar Ilmu Fiqh, Prof. Dr Hasbi As-Shiddiqi,Pustaka rizki putra, Semarang.
  8. 8. Ushul fiqih, Muhammad Abu Zahroh.
  9. Al-Faqih wal Mutafaqih, Khotib Al-Baghdady, Darul Ibnu Jauzy.

10.   Syarh Aqidah Thohawiyah, Ibnu Abi ‘iz Al-Hanafi, Al-Maktab Al-Islamy.

11.   Taiysir Mustholah Hadits, DR. Mahmud Thohan, Syirkah Bangil Indah Surabaya.

12.   Shohih Targhib wa Tarhib, Nasiruddin Al-Albani, jld 1, Maktabah Syamilah.

13.   Irsyadul Fuhul, Imam Asy- Syaukani, Darul Kutub Al-Aroby.

14.   Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, jld 18.

  1. Kamus Al-Munawir, Ahmad Warson Munawir, Pustaka Progresif, edisi kedua.

[1] . Al-Wajiz fi Ushul Fiqh : 35, DR. Wahbah Az-Zuhaily.

[2] . Taysir Mustholah Hadits: 20

[3] . Mutawatir, Shohih Targhib wa Tarhib : 1/22, Nasiruddin Al-Bani. Ada beberapa lafadz yang berbeda tapi tidak mengurai kedudukannya sebagai Mutawatir,

[4] . Taysir Mustholah Hadits, hal: 21

[5] . Irsyadul Fuhul, Asy- Syaukani :  52, Majmu’ Fatawa 18/50

[6] . Ushul fiqih, M.Abu Zahroh : 107-108

[7] . Ushul Fiqih, M. Abu Zahroh : 107

[8] . Taysir Mustholah Hadits: 25, Pengantar Ilmu Fiqih : 179

[9]Abu Zahroh : 108.

[10] . Syarh Aqidah Thohawiyah : 1/729.

[11] . Al-Faqih wal Mutafaqih : 97-98, Mu’alim fi usul fiqh : 148-150

[12] . Syarh Al-Kaukabulkabir : 2/367

[13] . Ma’alim fi ushul fiqh : 146-147, Muhamad bin Husain, Darul ibnu Jauzy. Pengantar ilmu fiqh : 180, Prof, DR. Hasbi As-Shiddiqi.

[14] . Al-Wajiz fi Ushul Fiqh : 38, Dr Wahbah Az-Zuhaily.

[15] . Tafsir Ibnu Katsir : jld 2/ 246.

[16] . Al-Wajiz fi Ushul Fiqh : 38

[17] . Mabahits fi Ulumil Qur’an : 237, Manna Qotthon.

[18] . Al-Wajiz fi Ushul Fiqh : 38.

[19] . Pengantar Ilmu Fiqih : 180, Al-Wajiz fi Ushul Fiqh : 48.

[20] . Al-Wajiz fi Ushul Fiqh : 40. Ma’alim fi Ushul fiqh : 132.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: