Oleh: ahmadkhoiruddin | Januari 16, 2010


Zakat Fitrah

Dalam

Timbangan Al-Qur’an dan As-Sunnah

  1. I. Muqoddimah

Segala puji syukur kehadirat Allah Y Rabb semesta alam yang telah melimpahkan rahmat dan nikmat kepada kita hingga sampai saat ini, Shalawat dan Salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah r, ahli keluarga, sahabat dan orang-orang yang senantiasa mengikuti jalan beliau hingga hari kiamat kelak.

Melatar belakangi makalah ini, penulis melihat saudara-saudara kita disebagian daerah yang jauh dari lini dakwah kurang memperhatikan perintah-perintah Allah Y, salah satunya ialah Zakat fitrah karena ibadah ini hanya dilaksanakan sekali dalam satu tahun  pada akhir bulan Ramadhan, berapa kadar zakat yang harus dikeluarkan!, kepada siapa saja zakat diwajibkan!, atau kepada siapa zakat ini di berikan! Insyaallah akan penulis paparkan dalam tulisan ini.

  1. II. Definisi Zakat Fitrah

Zakat fitrah adalah zakat yang dikeluarkan atau disebabkan berbuka pada bulan Ramadhan atau ketika idul fitri, disebut juga “Shadaqatul fitri” karena lafadz shadaqah bermakna zakat sebagaimana telah banyak disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits, disebut juga dengan zakat fitrah.

  1. III. Dalil Zakat Fitrah

Dalil Al-Qur’an

Allah SWT berfirman

وأتواالزكاة ( البقرة: ۱۱٠)

“Dan tunaikanlah zakat” (Al Baqaroh: 110)

Dalam kaidah ushul fiqih dikatakan “Suatu perintah menunjukkan kewajiban”[1] ayat ini memerintahkan kita umat islam untuk menunaikan zakat secara umum.Adapun ayat yang secara langsung memerintahkan kita untuk menunaikan zakat fitrah ialah firman Allah k dibawah ini

Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang membersihkan diri, dan ia ingat nam,a Rabbnya lalu ia mendirikan shalat.” (Al A’la: 14-15)

Jumhur ulama tafsir seperti Atha’, Abu Aliyah, Ibnu Siirin, Abu Sa’id Al-Khudri dan ibnu Umar berpendapat bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan shadaqah fitri,dan yang dimaksud dengan membersihkan diri dalam ayat diatas ialah dengan memberikan sebagian harta pada akhir bulan Ramadhan, sedangkan Ibnu Abbas dan Ad-Dhohak berkata: Tunaikanlah zakat sebelum melaksanakan shalat iedul fitri.[2]

v  Dalil Hadits:

“Dari ibnu Abbas ia berkata: rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih untuk orang-orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kotor, juga sebagai makanan untuk orang-orang miskin. Barang siapa yang menunaikan sebelum shalat ied maka zakatnya diterima (zakat fitrah) dan bagi siapa yang menunaikan setelah shalat maka ia seperti shadaqah biasa” (HR. Ibnu Majah dan Abu Daud)[3]

  1. IV. Hukum zakat fitrah

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ  أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنْ الْمُسْلِمِينَ

“Dari Ibnu Umar t bahwasanya Rasulullah r mewajibkan zakat fitrah pada bulan ramadhan, satu sha’ dari kurma kering, atau satu sha’ dari gandum kepada setiap yang merdeka atau hamba sahaya, laki-laki maupun perempuan dari kalangan umat islam.”(HR. Al-Jama’ah)

Mayoritas ulama dari kalangan salaf dan khalaf berpendapat: “Bahwa hukum zakat fitri rardhu ‘ain atau wajib bagi setiap jiwa muslim, karena umumnya lafadz dalam alqur’an, “Dan tunaikanlah zakat”.

Adapun ulama yang berpendapat fardhu ialah: Imam Malik, Syafi’I, dan Ahmad. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat wajib.[4] Dalam hal ini para ulama’ tidak membedakan antara fardhu dengan wajib, sama-sama perintah Allah SWT yang harus di laksanakan oleh jiwa yang mengakui dirinya beriman.

Sedangkan sebagian ulama’ kholaf dari kalangan madzhab Imam Ahmad dan pengikut madzhab Imam Malik berpendapat sunnah, begitu pula pendapat sebagian penduduk Iraq, mereka berhujjah dengan hadits yang di riwayatkan oleh Imam Ahmad dan An-Nasa’i.

عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصَدَقَةِ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ تَنْزِلَ الزَّكَاةُ فَلَمَّا نَزَلَتْ الزَّكَاةُ لَمْ يَأْمُرْنَا وَلَمْ يَنْهَنَا وَنَحْنُ نَفْعَلُهُ

Dari Qois bin sa’ad bin Ubadah ia berkata : “Rasulullah SAW telah memerintahkan kita untuk menunaikan zakat sebelum di turunkan ayat yang berkenaan dengan zakat, dan ketika ayat itu di turunkan  Rasulullah tidak memerintahkan dan tidak pula melarang  kita, akan tetepi kita tetap melaksanakannya”

Menurut Ibnu Hajar Al-Atsqolani Hadits ini ada periwayat yang tidak di ketahui , Al-Hakim berkata Hadits ini shahih dengan syarat Bukhori dan Muslim. Oleh karena itu pendapat yang lebih kuat ialah wajib.

  1. V. Hikmah di Syariatkan Zakat Fitrah

Hikmah di wajibkannya Zakat Fitrah telah di terangkan dalam hadits yang di riwayatkan Ibnu Abbas ia berkata :

Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang-orang yang berpuasa dari hal yang sia-sia dan Kotor, serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin (HR.Ibnu Majah, Abu Dawud)

Dari hadits ini ada dua Hikmah yang dapat kita ambil :

  1. Sebagai pembersih jiwa orang-orang yang berpuasa Ramadhan dari berbagai macam perkataan yang sia-sia dan kotor, Puasa yang sempurna ialah menahannya lisan dan anggota tubuh dari segala kema’siatan yang sering di lakukan kedua telinga, mata, tangan, kaki, dan menjauhi apa-apa yang di larang oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Adanya zakat fitrah juga sebagai penutup catatan amal kebaikan bagi orang yang berpuasa, bagaikan seseorang yang mandi menyucikan diri dari segala kotoran yang berbahaya untuk kesehatannya, Karena kebaikan akan menghilangkan keburukan.

Sebagaimana kedudukan shalat sunnah rowatib sebagai pelengkap kekurangan ketika shalat  fardhu lima waktu, seperti lalai atau hal lainnya dari adab-adab shalat, sebagian ulama juga memisalkan zakat seperti sujud sahwi, seperti ungkapan Waqi’ bin Jarrah :

زكاة الفطر لشهر رمضان, كسجدة السهو للصلاة تجبر نقصان الصوم كما يجبر السجود نقصان الصلاة.

Zakat fitrah untuk bulan ramadhan bagaikan sujud sahwi ketika akhir shalat, mengganti kekurangan orang yang berpuasa, sebagaimana sujud sahwi pengganti kekurangan dalam shalat”.

  1. Zakat juga sebagai amal sosial, dan penyubur kasih sayang sesama umat islam sekaligus bantuan bagi fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Hari raya Idul fitri adalah hari bahagianya orang-orang yang berpuasa, maka hendaknya yang mempunyai harta lebih berbagi kebahagiaan pada seluruh umat islam yang kurang mampu, karena meraka tidak akan merasakan kebahagiaan dan suka cita jika mereka melihat orang-orang mempunyai kelebihan harta memakan makanan yang lezat dan istimewa sedangkan ia sama sekali tidak mempunyai sedikit pun makanan pada hari raya umat islam.

Itulah hikmah yang telah ditetapkan oleh Allah Y sebagai kewajiban bagi seluruh umat islam untuk membagikan kelebihan harta mereka kepada orang yang lebih membutuhkannya. Dan mencegah orang-orang fakir dari hinanya meminta-minta pada hari raya iedul fitri. Dalam hadits di sebutkan

“Cukupkanlah mereka pada hari ini” (HR. Baihaqi)

  1. VI. Siapakah yang Wajib Menunaikan Zakat Fitrah

Zakat fitrah diwajibkan bagi siapa saja yang memiliki satu sho’ makanan pokok hari itu dan masih mempunyai persediaan selama satu hari satu malam berikutnya, demikian pendapat Imam Malik, Syafi’i, Ahmad, dan Syaukani.

Zakat fitrah ini merupakan kewajiban atas seluruh umat islam, tiada perbedaan antara yang merdeka atau budak sahaya, laki-laki maupun perempuan, muda maupun tua, bahkan tidak ada perbedaan antara yang kaya berkecukupan atau yang kekurangan selama ia masih mampu sebagaimana pendapat diatas.[5] Adapun yang diperbolehkan  di bayarkan  zakatnya ialah sebagai berikut :

  1. Istri dan Anak

Seorang istri atau anak juga diwajibkan membayar zakat, akan tetapi seorang suami boleh membayarkan untuknya, Ini pendapat Abu Hanifah. Sedangkan menurut pengikut Adz Dzahabi di anjurkan bagi seorang istri membayar zakatnya sendiri dari harta yang ia miliki dan Imam Malik, Syafi’i, Ahmad, Al Laits dan Ishaq berpendapat hendaknya seorang suami mengeluarkan zakat untuk istrinya, anak-anaknya, dan pembantunya dikarenakan nafkah mereka masih berada dibawah tanggung jawabnya.[6]

Bagi seorang anak yang mempunyai harta sendiri dibolehkan mengeluarkan untuk dirinya sendiri, Muhammad bin Hasan berkata : Zakat fitrah anak mutlaq bagi ayahnya, jika ia tidak mempunyai orang tua maka ia tidak diwajibkanwan,

Maka dari penjelasan di atas walaupun anak itu belum berpuasa ia tetap dizakati sebagai makanan untuk orang-orang yang membutuhkan.[7]

  1. b. Janin Dalam Rahim

Bagi janin para ahli fiqih tidak mewajibkannya, akan tetapi jika bayi itu lahir sebelum malam idul fitri maka ia wajib di zakati.

Sedangkan pendapat Ibnu Hazm : Jika janin telah sempurna penciptaannya dalam rahim ibu selama 120 hari sebelum terbitnya fajar pada malam idul fitri, maka ia wajib dizakati sebagaimana diterangkan dalam hadits bahwa ruh ketika itu telah ditiupkan. Ibnu Hazm berhujjah dengan hadits yang memerintahkankan anak kecil wajib dizakati dan janin masuk dalam golongan anak kecil. Setiap hukum yang diwajibkan untuk anak kecil maka diwajibkan pula baginya.

Ia juga berhujjah dengan kebiasaan Utsman bin Affan t yang mengeluarkan zakat untuk anak-anak kecil, dewasa dan yang masih dalam kandungan. Akan tetapi apa yang dilakukan Kholifah Utsman ini tidak mengisyaratkan wajib kecuali hanya sunnah. Dan Imam Ahmad juga berpendapat sunnah atau dibolehkan dan tidak wajib.[8]

  1. c. Budak Sahaya

Bagi seseorang yang mempunyai budak maka ia boleh membayarkannya, jika  hamba itu ahlu dzimmah maka para ulama memperselisihkannya. Umar bin Abdul Aziz, Atho’, Mujahid, Sa’id bin Jubair, An-Nakhoi Ats-Tsauri dan Ishaq berpendapat bahwa seorang tuan muslim juga dianjurkan membayarkan zakat untuk hamba sahayanya yang dzimmi (Orang kafir yang dilindungi dalam negara Islam). Adapun Imam Malik, Syafi’i dan Ibnu Tsaur berpendapat mereka tidak wajib membayar zakat, baik dia orang merdeka atau hamba sahaya yang hidup dibawah naungan negara yang menerapkan syari’at Islam.[9]

  1. VII. Waktu Mengeluarkan Zakat Fitrah.

Untuk menentukan waktu pengeluaran zakat maka disini ada dua pendapat:

  1. Disunnahkan mengeluarkan zakat fitrah sebelum melaksanakan shalat ied setelah terbit fajar, karena Nabi r memerintahkan untuk menunaikannya sebelum kaum muslimin keluar untuk malaksanakan shalat ied.

Dalam hal ini Ibnu Abbas meriwayatkan :

مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَات

“Barang siapa yang mengeluarkannya sebelum shalat maka zakatnya di terima (sebagai Zakat fitrah)dan barang siapa yang megeluarkannya setelah shalat maka ia seperti shodaqoh biasa

Sebagian Ulama’ berpendapat, zakat dikeluarkan pada saat terbenamnya matahari pada akhir bulan ramadhan, maka barang siapa ketika itu ia menikah, mempunyai budak sahaya atau melahirkan anak, atau masuk islam sebelum terbenamnya matahari, maka ia wajib mengeluarkan zakat. Ini pendapat imam Ahmad, Ishaq, Malik, Syafi’i. sedangkan pendapat Al Laits dan Abu Tsaur adalah setelah terbitnya fajar pada hari raya.

  1. Memajukan satu hari atau dua hari sebelum hari raya juga diperbolehkan dan tidak lebih dari itu. Ibnu Umar berkata: “Para sahabat mengeluarkan zakat fitrah sebelum shalat ied satu hari atau dua hari. (HR. Bukhari, Abu Dawud )

Tidak sah jika seseorang mengeluarkan zakat fitrah setelah shalat kecuali shadaqah itu menjadi shadaqah biasa, dan ini juga untuk membedakan dengan zakat maal jika  ditinjau dari segi waktu, jika di tijau dari segi  manfaat zakat fitrah sebagai pembersih kotoran pada bulan ramadhan, dan zakat maal sebagai pembersih dari harta yang berlebih.

  1. VIII. Ukuran dan Jenis Makanan untuk Zakat Fitrah.

Dalam Bab ini ada beberapa pembahasan :

  1. Zakat Fitrah dengan Satu Sho’ Makanan Pokok.

Menurut Ijma’ ukuran zakat fitrah untuk tiap jiwa adalah 1 sha’ (1 sha’= 4,1 mud = 576 gram = 2,75 liter)  berupa makanan dari daerah setempat seperti gandum, kurma, beras, anggur, jagung dan lain sebagainya.

“Abu Sa’id Al-Khudri berkata: “Ketika Rasulullah r hidup ditengah-tengah kami, kami mengeluarkan zakat fitrah untuk setiap anak-anak, orang dewasa dan budak sebanyak satu sha’ makanan atau satu sho’ keju atau satu sho’ gandum atau satu sho’ kurma atau satu sh’, anggur. Dan kami tetap mengeluarkannya sehingga Mu’awiyah menunaikan haji dan umrah, kemudian ada salah seorang sahabat berdiri diatas mimbar dan berkata tentang perihal itu:” Sesungguhnya aku melihat bahwa setengah sho’ gandum di Syam sama  dengan satu sho’ kurma, maka para penduduk melakukan hal itu. (Muttafaq ‘alaih)[10]

Akan tetapi dalam hal ini sebagian ulama berbeda pendapat dalam menentukan kadar zakat.

Imam At-Tirmidzi berkata: Semua jenis tanaman maka zakatnya satu sho’ dan ini pendapat Imam Syafi’i dan Ishaq.

Abu Hanifah membolehkan untuk berzakat dengan harta atau mata uang yang senilai dengan satu sho’ dan ia juga berpendapat “jika seseorang berzakat dengan gandum maka ia cukup dengan setengah sho”

Dan Sebagian ulama’ seperti Sufyan, Ibnu Mubarak dan penduduk Kufah berpendapat bahwa semua sesuatu dari tanaman maka zakatnya satu sho’ kecuali gandum, kerena  setengah sho’ gandum sama dengan satu sho’ makanan pokok lainnya[11], mereka berdalih dengan hadits berikut:

“Dari Abi Syu’air dari ayahnya bahwa Rasulullah r bersabda: “Keluarkanlah shadaqtul fitri kalian dengan satu sho’ dari gandum atau setengahnya, atau satu sho’ dari biji gandum atau satu sho’ kurma kering untuk setiap satu jiwa. (HR. Abu Dawud)[12]

Dalam hadits yang lain disebutkan:

“Diriwayatkan dari sa’id bin Musayyib bahwa ia berkata: bahwasanya shodaqoh fitri pada masa Rasulullah r adalah setengah sho’ dari biji gandum, atau satu sho’ dari jelai atau satu sho’ dari kurma kering (HR. Abu Dawud dan Al Baihaqi)

Begitu pula pendapat Ibnu Qoyyim dan Ibnu Taimiyah mereka berpendapat boleh dengan setengah sho’ gandum.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas maka Zakat Fitrah yang lebih utama adalah dengan satu sho’ makanan pokok dan tidak mengapa jika kita ingin mengeluarkan gandum dengan setengah sho’.

  1. Zakat dengan Selain Makanan Pokok.

Jika suatu daerah itu tidak ada jenis-jenis makanan pokok yang telah dijelaskan oleh nash diatas, maka diganti dengan tumbuh-tumbuhan yang berbiji atau buah dan tidak diperkenankan mengganti dengan selainnya seperti daging atau susu, ini menurut pendapat Abu Bakar. Ia juga menjelaskan satu sho’ dari makanan itu ialah dari gandum atau jagung dan apa-apa yang bisa ditakar.

Diperbolehkan juga dengan tepung karena bisa ditakar dan bisa disimpan. Ini pendapat Imam Ahmad dan Suwaiq. Sedangkan Imam Malik dan u Syafi’i tidak membolehkannya.

Dan tidak diperbolehkan membayar dengan roti, karena ia tidak bisa ditakar atau di simpan. Begitu juga dengan biji yang cacat, yang sudah lama (kadaluarsa) dan rasanya berubah.

  1. Membayar dengan Uang.

Banyak umat islam yang mengatakan bahwa Umar bin Abdul Aziz berzakat dengan uang, akan tetapi Imam Malik, As-Syafi’i dan Ats-Tsauri tidak membolehkan. mengganti zakat dengan uang, karena hal itu menyelisih Rasulullah r sedangkan Abu Hanifah membolehkan dengan alasan karena zakat fitrah diwajibkan kepada umat islam untuk memenuhi kebutuhan dan keperluan orang-orang fakir, dan kebutuhan fakir miskin berbeda-beda, mereka berdalih dengan hadits Ibnu Umar t bahwa “zakat sebagai bantuan makanan untuk fakir miskin” mencukupi fakir miskin bisa dengan memberikan uang atau sejenisnya yang dibutuhkan oleh mereka.[13]

  1. IX. Masalah Seputar Zakat Fitrah
    1. Zakat Istri Untuk Suami.

Istri yang kaya boleh memberikan zakat kepada suaminya yang miskin. Namun suami tidak boleh memberikan zakat fitrahnya kepada istrinya. Karena nafkah istri adalah kewajibannya dan nafkah suami bukan kewajiban istri.

  1. Gugurnya Zakat Fitrah.

Zakat fitrah gugur dari orang yang tidak mempunyai makanan pada waktu mengeluarkannya. Karena Allah Y tidak membebani seorang hamba melainkan sesuai kadar kemampuannya.[14]

Dan barangsiapa makanannya tersisa kemudian ia mengeluarkannya sebagai zakat fitrah, maka zakatnya sah karena Allah Y berfirman:

“Maka bertaqwalah kalian semampu kalian”

  1. Memberikan Zakat kepada Satu Orang

Zakat fitrah satu orang boleh diberikan kepada beberapa orang dengan dibagi rata terhadap mereka. Dan juga dibolehkan zakat fitrah beberapa orang diberikan kepada satu orang. Karena perintah zakat fitrah ini mutlak tanpa pembatas. Ini adalah pendapat Imam Malik, Abu Tsaur, Ibnu Mundzir.

  1. Tempat Ditunaikannya Zakat Fitrah

Zakat fitrah wajib bagi setiap muslim dinegeri manapun ia berada ketika malam idul Fitri pada Akhir bulan Ramadhan [15].kecuali seorang anak yang pergi menuntut ilmu dan ia jauh dari keluarga maka zakatnya di tanggung oleh walinya, begitu juga seorang istri.

  1. Mendistribusikan Zakat Fitrah Untuk Fisabilillah.

Pada asalnya yang berhak mendapatkan zakat fitrah adalah para fakir miskin yang tidak mendapatkan makanan pada hari iedul fitri. Jika mereka sudah mendapatkan jatah semua maka zakat fitrah boleh didistribusikan kepada delapan golongan yang disebutkan Allah Y dalam Al Qur’an termasuk golongan fisabilillah. Namun para ulama sendiri belum sepakat dalam menentukan maksud fisabilillah.

Mayoritas ulama mengatakan maksud fisabilillah adalah para mujahid yang berperang melawan orang-orang kafir dengan senjata. Dan sebagian ulama mengatakan bahwa fisabilillah adalah seluruh proyek islam yang memberikan manfaat bagi orang lain. Sebagian ulama lain mengatakan bahwa fisabilillah adalah seluruh aktivitas yang bertujuan menegakkan kalimat islam dengan berbagai bentuk.

Dengan demikian, menurut mayoritas ulama’ zakat fitrah tidak boleh didistribusikan ke lembaga-lembaga pendidikan ataupun pembangunan masjid. Sedang menurut sebagian ulama hal itu diperbolehkan karena termasuk proyek islam yang bermanfaat bagi orang banyak.

  1. Zakat Fitrah Untuk Amil Zakat.

Amil zakat boleh mengambil bagian dari zakat fitrah karena mereka masuk dalam delapan golongan orang yang berhak mendapatkan zakat fitrah, jika seluruh fakir miskin sudah mendapatkan jatahnya.

“Dari Atho’ bin Yasar dari Nabi r beliau bersabda : “Shadaqah tidak halal bagi orang kaya kecuali dari lima golongan : Orang yang berperang di jalan Allah, Amil atau orang yang terlilit hutang…..” (HR. Abu Daud 1 / 380)

  1. Zakat Anak Yatim

Zakat fitrah bagi anak kecil yang tidak mempunyai orang tua atau yatim piatu maka ia tidak wajib mengeluarkan zakat, karena nafkah anak ditanggung oleh seorang ayah. Tapi jika ia mampu membayar sendiri tidak mengapa ia mengeluarkannya.[16]

  1. Ukuran Orang Indonesia Disebut Fakir Atau Miskin

Ukuran orang fakir miskin di Indonesia adalah orang yang mendapatkan makanan pada hari raya iedul fitri. Atau orang yang mendapatkannya tidak bisa mencukupi kehidupan sehari-harinya, atau orang yang pendapatannya dibawah standar yang telah ditentukan oleh pemerintah seperti ketidak mampuan keluarga tersebut untuk makan minimal dua kali sehari, atau menempuh pendidikan sembilan tahun, atau mendapatkan pelayanan kesehatan standar dan tak mampu membeli pakaian layak.

Ada yang menentukan kriteria miskin untuk masyarakat kota adalah yang berpendapatan kurang dari Rp. 138.803 / bulan atau Rp. 1.665.636 / tahun. Adapun untuk masyarakat desa adalah kurang dari Rp. 105.888 / bulan atau 1.270.656 / tahun.

Ada yang berpendapatan kurang dari Rp. 8.328.180 / rumah tangga / tahun bagi yang hidup di kota atau yang berpendapatan kurang dari Rp. 6.353.280 / rumah tangga / tahun bagi yang hidup didesa dengan asumsi  5 jiwa / rumah tangga.

Namun ada juga yang menentukan kriteria orang miskin didesa dengan ciri-ciri sebagai berikut:

  • Dalam sehari makan kurang dari 3 kali.
  • Penghasilan tidak tetap.
  • Tidak mempunyai sawah atau ladang.
  • Hidup dirumah sederhana dari bilik bambu ukuran 6 X 4 M2 dan berlantai tanah.

Termasuk para jompo, manula dan para janda yang ditinggal mati suaminya. Wallahu a’lam.

  1. X. Kesimpulan dan Penutup

Zakat fitrah adalah zakat yang dikeluarkan pada akhir bulan ramadhan berupa makanan pokok atau semua sesuatu yang dibutuhkan fakir miskin dan diutamakan makanan pokok.

Zakat fitrah diwajibkan kepada seluruh umat islam sejumlah satu sho’ dengan beberapa ketentuan yang telah saya paparkan diatas.

Dan akhirnya kepada Allah saya memohon ampun atas segala kesalahan dalam penulisan makalah ini, karena tidak ada manusia yang sempurna, dan penulis membuka selebar-lebarnya masukan yang membangun untuk kebaikan penulis

REFERENSI :

  1. Al-Qur’anul Karim
  2. Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Al-Qurtubi
  3. Shahih Muslim, Imam Muslim , Darul Fikr
  4. Musnad Imam Ahmad, Imam Ahmad, Baitul Afkar
  5. Shahih Ibnu Majah, Ibnu Majah, Maktabah Al-Ma’arif
  6. Sunan Abu Daud, Imam Abu Daud , Darul Ibnu Hazm
  7. Al-Mughni , Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, Maktabah Al-Hajr
  8. Fikih Sunah, Sayid Sabiq, Darul Fatih
  9. Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusd , Darul Kitab Al-Ilmiyah
  10. Fikih Ibadah , Hasan Ayub
  11. Fikih Zakat, Yusuf Qordowi, Mu’asasah Ar-Risalah
  12. Fikih Kontemporer, Yusuf Qordowi


[1] Surat Al -Baqarah: 110, An-Nisa: 77, An-Nuur:56

[2] Fikih zakat Hasan Ayyub, jld 2 / 920

[3] Al Jami’ li Ahkami Qur’an, imam Al Qurthubi jld 20/21

[4] Imam abu hanifah membedakan antara wajib dan fardhu. Fardhu menurut beliau ialah hukum yang ditentukan oleh dalil qothi’ sedangkan wajib hukum yang di tentukan oleh dalil dzonni.

[5] Fiqih Zakat, Hasan Ayub jld 2 / 921.

[6] Bidayatul Mujtahid, ibnu Rusyd. Jld 3 / 133

[7] Al Mughni, Ibnu Qudamah. 4 / 283

[8] Al Mughni. Ibnu Qudamah 4 / 316. fiqh Zakat Yusuf Qordhowi. 2 / 927

[9] Fiqih sunnah sayyid Sabiq. Jld 1 hal. 384-385

[10] HR. Bukhari: 1508. Muslim: 2284

[11] Fiqih Sunnah, jld 1 hlm 385

[12] Abu Dawud, 2 / 271, Ahmad, 5/432

[13] Tanya Jawab Seputar Puasa Dr. Zain An Najah hal:146

[14] Al Mughni, Ibnu Qudamah Al Maqdisi. 4 / 310

[15] Fiqih Kontemporer. Yusuf Qardhawi bab zakat

[16] Fiqih Zakat, Yusuf Qordhowi 2

oleh : Ahmad bin Syarif  )


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: